Nasib Ia Di Tengah Kota, merupakan salah satu film karya siswa-siswi SMA Negeri 3 Singkawang yang tentunya tidak terlepas dari bimbingan serta arahan dari Bapak Deny Suhendra.

Seperti yang diketahui, film ini menceritakan tentang kondisi suatu bagian dari kota yang sering terlupakan. Dalam jilid 1, film ini menceritakan tentang keberadaan Sungai Singkawang yang kotor, dipenuhi oleh sampah karena kurangnya perhatian sesama anggota masyarakat. Adapun Tasya dan Vani, siswi SMANTI yang menjadi pemeran utama dalam film jilid 1 ini.

Film Nasib Ia Ditengah Kota Jilid 1 mendapat 2 penghargaan terbaik yaitu Penata Kamera Terbaik dan Film Terbaik se Kalimantan, filmnya dapat dilihat pada channel Youtube guru pembina yaitu DENY SUHENDRA.

Saat ini, Nasib Ia Di Tengah Kota jilid 2 kembali rilis dan menarik perhatian penonton karena menceritakan tentang bangunan tua peninggalan Kerajaan Sambas yang berada di tengah pusat Kota Singkawang. Seringkali, sebagian besar dari bersikap acuh dan bahkan tidak tau tentang keberadaan hasil budaya tersebut. Adapun film jilid 2 ini dibintangi oleh Ranum dan Ajeng. Tentunya, banyak pengajaran yang bisa diambil dari film ini.

 

 

Budaya Menunjukan Jati Diri Bangsa.


Singkawang - Merujuk pada realita fenomena perkembangan teknologi dan pesatnya perkembangan zaman, generasi muda Indonesia mengalami beberapa perubahan kecenderungan dalam bergaul dan bersosialisasi.
Film Garapan sutradara Andi Adrian dalam rumah Produksi ISO-100 ini, berusaha mengangkat sebuah cerita tentang pentingnya melestarikan Kebudayaan nasional khususnya kebudayaan lokal oleh generasi muda, sebagai tameng generasi penerus bangsa dari banyaknya budaya luar yang cenderung berdampak negatif.

SINOPSIS - Dinda adalah seorang Penulis yang memiliki hobi fotografi, ia memiliki rasa cinta terhadap kebudayaan nasional terlebih kebudayaan yang diwarisi oleh para leluhurnya. Lewat hobinya ia menulis sebuah buku yang akan mengenalkan dan mengangkat kebudayaan yang berkembang di tanah Kalimantan, kuhusnya Kalimantan Barat. Buku tersebut merupakan gambaran rasa cintanya kepada Budaya sekaligus, sebagai ungkapan penyesalah dan rasa bersalah kepada ayahnya, atas kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana ia harus kehilangan ayah tercintanya. Rasa bersalah itu membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan menjadikannya mengerti apa yang selama ini diperjuangkan oleh ayahnya itu.